Pendekatan Rumah Susun
Masyarakat Indonesia khususnya Pulau Jawa memiliki kebiasaan membangun rumah mereka secara horisontal. Maka tidak heran apabila terdapat daerah slum area atau daerah kumuh akibat bertambahnya penduduk yang berpenghasilan rendah dan menetap di bantaran sungai..
Rumah susun adalah rumah yang dibangun secara vertikal. Rumah susun dibangun sebenarnya bertujuan untuk mengentasan masyarakat dari kemiskinan dan kekumuhan. Pemerintah memberikan subsidi bagi masyarakt yang tinggal di rumah susun. Pembangunan rumah susun sebenarnya memunculkan pula pada paradigma masyarakat bahwa rumah susun ialah sumber patologi sosial seperti pelacuran, kenakalan remaja, penyakit jiwa serta peningkatan angka bunuh diri yang banyak terjadi di rumah-rumah susun di Jepang. Bahkan ada yang merasa kesepian karena jauh dari tetangga akibat tinggal di rumah susun. Apabila pandangan masyarakat terhadap rumah susun itu baik maka peluang untuk pengadaan rumah susun akan menjadi semakin luas. Pada masa lalu masyarakat hanya dipandang sebagai obyek dalam program pembangunan rumah susun tetapi saat ini masyarakat dipandang sebagai subjek pembangunan yang nantinya dilibatkan secara langsung. Hal ini akan berakibat pada rasa kepemilikan masyarakat terhadap proyek yang akan menjadi tempat bermukim.
Keberlangsungan sosial atau social sustainability adalah menjaga suatu komunitas atau relasi dalam satu lingkup lingkungan masyarakat. Apabila relasi-relasi yang telah terhubung satu sama lain itu terputus maka akan terbentuk masyarakat-masyarakat yang individualis. Hal ini dapat terjadi apabila masyarakat berada di rumah susun. Relasi-relasi yang telah terbentuk akan menjadi terputus apabila tidak ada ruang untuk masyarakat bersosialisasi di lingkungan rumah susun itu sendiri. Dari sini seorang arsitek bisa disalahkan karena kesalahannya dalam mendesain rumah susun itu sendiri.
Pendekatan-pendekatan rumah susun ternyata tidak semudah yang dibayangkan karena ini menyangkut masyarakat yang plural. Dengan cara hidup dan kebiasaan yang berbeda pula. Saya merasa ragu-ragu apabila masyarakat yang tinggal di rumah susun dapat mempertahankan keberlangsungan sosial masyarakat di rumah susun.
Sebagai seorang arsitektur yang berkelanjutan terutama keberlangsungan sosial maka seorang arsitektur harus memperhatikan tentang sosial budaya masyarakat itu sendiri, ekonomi, dan budaya secara komprehensif, juga melibatkan calon penghuni rumah susun dalam proses perencanaan, yang selama ini cenderung dikesampingkan. Dengan begini keberlangsungan sosial dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya dan meminimalkan terputusnya relasi-relasi yang telah terbentuk. Maka dengan begini masyarakat akan betah tinggal di rumah susun dan mengubah persepsi mereka untuk memilih rumah susun sebagai hunian yang tepat untuk tempat tinggal mereka.

Ka mnta email/contact nya dong aku pengen tanya2 tentang keloid plis :(
BalasHapus