Kamis, 26 Maret 2009

Sustainability : Keberlangsungan Sosial

Pendekatan Rumah Susun


Masyarakat Indonesia khususnya Pulau Jawa memiliki kebiasaan membangun rumah mereka secara horisontal. Maka tidak heran apabila terdapat daerah slum area atau daerah kumuh akibat bertambahnya penduduk yang berpenghasilan rendah dan menetap di bantaran sungai..

Rumah susun adalah rumah yang dibangun secara vertikal. Rumah susun dibangun sebenarnya bertujuan untuk mengentasan masyarakat dari kemiskinan dan kekumuhan. Pemerintah memberikan subsidi bagi masyarakt yang tinggal di rumah susun. Pembangunan rumah susun sebenarnya memunculkan pula pada paradigma masyarakat bahwa rumah susun ialah sumber patologi sosial seperti pelacuran, kenakalan remaja, penyakit jiwa serta peningkatan angka bunuh diri yang banyak terjadi di rumah-rumah susun di Jepang. Bahkan ada yang merasa kesepian karena jauh dari tetangga akibat tinggal di rumah susun. Apabila pandangan masyarakat terhadap rumah susun itu baik maka peluang untuk pengadaan rumah susun akan menjadi semakin luas. Pada masa lalu masyarakat hanya dipandang sebagai obyek dalam program pembangunan rumah susun tetapi saat ini masyarakat dipandang sebagai subjek pembangunan yang nantinya dilibatkan secara langsung. Hal ini akan berakibat pada rasa kepemilikan masyarakat terhadap proyek yang akan menjadi tempat bermukim.

Keberlangsungan sosial atau social sustainability adalah menjaga suatu komunitas atau relasi dalam satu lingkup lingkungan masyarakat. Apabila relasi-relasi yang telah terhubung satu sama lain itu terputus maka akan terbentuk masyarakat-masyarakat yang individualis. Hal ini dapat terjadi apabila masyarakat berada di rumah susun. Relasi-relasi yang telah terbentuk akan menjadi terputus apabila tidak ada ruang untuk masyarakat bersosialisasi di lingkungan rumah susun itu sendiri. Dari sini seorang arsitek bisa disalahkan karena kesalahannya dalam mendesain rumah susun itu sendiri.

Pendekatan-pendekatan rumah susun ternyata tidak semudah yang dibayangkan karena ini menyangkut masyarakat yang plural. Dengan cara hidup dan kebiasaan yang berbeda pula. Saya merasa ragu-ragu apabila masyarakat yang tinggal di rumah susun dapat mempertahankan keberlangsungan sosial masyarakat di rumah susun.

Sebagai seorang arsitektur yang berkelanjutan terutama keberlangsungan sosial maka seorang arsitektur harus memperhatikan tentang sosial budaya masyarakat itu sendiri, ekonomi, dan budaya secara komprehensif, juga melibatkan calon penghuni rumah susun dalam proses perencanaan, yang selama ini cenderung dikesampingkan. Dengan begini keberlangsungan sosial dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya dan meminimalkan terputusnya relasi-relasi yang telah terbentuk. Maka dengan begini masyarakat akan betah tinggal di rumah susun dan mengubah persepsi mereka untuk memilih rumah susun sebagai hunian yang tepat untuk tempat tinggal mereka.


Rabu, 25 Februari 2009

CERPEN AKHIR PERADABAN ABAD 21

TEMPAT BERLINDUNG DI TAHUN 2012




“KRIII….NG!!!” bunyi jam weker membangunkanku dari mimpiku. Kujulur-julurkan tanganku untuk mencari jam weker yang masih berdering dengan kencangnya. Semalam aku tidak bisa tidur karena hari ini adalah hari di mana umat manusia akan mengalami perubahan peradaban mereka yang baru. Kulihat keluar jendela yang semalam terus kubuka karena panas dan pengap. Langit mendung, gelap, matahari tak nampak tapi panasnya masih terasa sampai ke kamarku. Tetapi hari berjalan dengan biasa saja.

Hari ini aku menginap ke rumah temanku karena akan membicarakan masalah skripsi. Rumahnya berada di daerah Klitern Lor. Rumah yang sangat dekat dengan kampus sehingga tak jarang aku sering bermain dan tidur di rumah temanku.

Aku menelepon temanku untuk membangunkannya dari mimpinya yang indah tapi anehnya tak ada sinyal sama sekali. Kemudian aku pun menghidupkan televisi berita pagi. ”Selamat pagi pemirsa. Berjumpa dengan saya....” seperti biasa acara pembukaan berita tersebut. Jam dinding masih berdetak seperti biasa. Kulihat waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. ”Pemirsa terjadi hari ini terjadi fenomena yang sangat menarik” perhatianku terarah pada siaran berita di depanku. ”Telah terlihat...di dataran...BRZZZTTT.. ” televisi kehilangan siarannya. Sial padahal lagi asyik-asyiknya. Kuganti siaran yang lainnya tapi sayangnya tidak ada sinyal. Mungkin antenanya bergeser karena wajar saja angin di luar lumayan kencang. Kurasa cukup kuat untuk menggeser antena.

Aku pun duduk di ruangan tengah, bersantai-santai sambil memandang langit yang mendung. ”Hari ini biasa saja seperti hari sebelumnya” batinku. Tiba-tiba awan-awan mendung itu terbelah-belah, cahaya matahari menembus ke sela-selanya. Begitu silau. Semakin lama awan-awan itu semakin lebar. Panas memasuki jendela kaca di samping kananku. ”AaW..!!” teriakku. Sinar matahari yang masuk terasa menyengat sampai-sampai aku merasakan pedih di lengan kananku. Aku berlari menuju ke dalam ruangan yang tidak terkena sinar matahari. Aku bersembunyi di belakang almari.

Kemudian kurasakan getaran dan suara gemuruh dari dalam tanah. ”Gempa bumi!” reflek aku berkata. Aku bergegas bangkit dari tempat dudukku dan hendak berlari keluar rumah. Tetapi sayang sebelum aku menuju pintu kakiku terpeselet, terjatuh, dan terguling-guling. Rasa sakit yang kuderita akibat terjatuh tadi tidak kupikirkan yang kupikirkan saat ini adalah menyelamatkan diri.

”Karin...!!” teriak temanku yang kudengar dari belakang. Ia menarik kakiku dan menyeretku ke dalam gua atau ruang bawah tanah. Tiba-tiba atap rumah sudah ambruk dan menimpa pintu gua. ”Hampir saja” kataku dalam hati. Tak lama kemudian goncangan tanah semakin lama semakin mereda. Temanku Cicilie menyulut korek api dan menyalakan lampu teplok. Ternyata ada lorong panjang di dalam gua. Kami berdua menyusuri lorong tersebut dan menemukan ruangan seperti kubah besar yang tertanam di dalam tanah. Sangat luas. Bahkan melebihi luas Alun-Alun Utara.

”Ini adalah sebuah kapal. Kapal ini cukup untuk seluruh warga Klitren.” jawabnya karena melihatku kebingungan. ”maksudmu.....” kataku lirih. ”Empat tahun yang lalu...” ia berbicara sambil mengajakku ke suatu tempat. ”Kami menyebut ini adalah kapal Nuh. Tetapi bedanya kapal ini hanya cukup untuk manusia saja. Di sini ada tabung oksigen dan persediaan makanan.” ia mengakhiri jalannya di ruangan penuh mesin. Di sana ada beberapa pria sedang menjadi operator mesin tersebut. Mungkin ruangan ini seperti markas rahasia Power Angers yang sering kutonton di televisi pada waktuku masih kecil. ”Lalu di mana orang tuamu?” tanyaku. ”Sebenarnya...” ia diam, dari matanya kulihat ia sedang menahan kepedihan. ”Empat tahun yang lalu..” lanjutnya, ”Kami membuat perjanjian. Yang boleh tinggal di kapal ini adalah mereka yang masih memiliki kesempatan hidup lebih panjang. Itu telah di sepakati oleh semua warga Klitren. Jadi yang tersisa di sini adalah mereka yang masih muda dan bisa berguna bagi kelangsungan hidup kita nanti.” ia mengakhiri perkataannya. Hal pertama yang kulakukan adalah diam dan melongo. ”Kalau itu sudah disepakati berarti semua ini, orang-orang yang berada di sini sudah terorganisasi dengan baik. Lalu kenapa kamu membawaku ke sini! Seharusnya aku termasuk ke dalam 60% penduduk Indonesia yang hilang seperti yang diramalkan Mama Lauren baru-baru ini.” aku agak marah. ”Sebenarnya ini rahasia yang harus dijaga warga Klitren dari warga lain. Bahkan pemerintah pun tak tahu tentang proyek kapal ini tetapi aku kasihan padamu. Aku sudah kehilangan keluargaku, apakah aku harus kehilangan sahabatku?” ia memasang wajah memelas. ”Aku bisa membagi jatah makanku untukmu..”, ”Tapi bagaimana dengan orang tuaku.. aku pun tak sempat mengucapkan kata perpisahan untuk mereka.” balasku dengan menahan tangis.

Tiba-tiba lantai yang kupijak bergoncang lagi. Gempa bumi lagi. Tapi makin lama goncangannya makin menjadi-jadi. Yang bisa kulakukan saat ini adalah tiarap di tanah. ”BUUMM!!” kudengar bunyi dentuman yang sangat dahsyat mengalahkan bunyi gemuruh tanah yang bergoncang. Kupingku sakit. ”Gunung Merapi meletus!” sahut seorang laki-laki yang mengamati monitor yang membuat kepalaku pusing hanya melihatnya saja.

Untuk beberapa menit keadaan menjadi tenang. Udara di dalam ruangan menjadi agak panaas dan lembab. ”DRRRrr...” kudengar suara mesin kapal difungsikan. Lamat-lamat kudengar suara air ”Bress..” seperti suara ombak menerpa bibir pantai. ”Air laut sudah mencapai daratan” sahut operator lainnya. ”Tsunami?” batinku.

Untuk setengah jam lamanya keadaan sama sekali tak berubah. ”Buka gerbang atas” aba-aba dari seorang wanita di atas ku. Gerbang di buka. Kapalpun terangkat dan keluar dari bawah tanah. Kapal ini terbuat dari ilmenit. Ilmenit adalah timah kosong Di atas kapal terdapat kubah besar dan si sekelilingi oleh kaca hitam yang sangat tebal. ”Isolator yang bagus sekaligus penahan tekanan air yang kuat” bicaraku dalam hati sambil berdecak kagum akan teknologi yang mereka rancang. Kapal seikit demi sedikit akan naik ke permukaan. Air laut yang berwarna coklat keruh menjadi pemandangan kami.

”KYAAa...” seseorang menjerit. Betapa tidak banyak mayat-mayat melayang-layang di dalam air laut yang keruh. Temaku Cicilie mual dan memuntahkan isi perutnya. Aku hanya bisa diam putus asa. Sedih, marah, bingung, mual, dan capek bercampur aduk menjadi satu. Kakiku lemas. Aku hanya bisa duduk bersandar pada sinding kapal dan mengambil hikmah dari semua ini.

Tak lama kemudian kapal mencapai ke permukaan. Terjadi gerhana matahari. Warna cahaya matahari terlihat aneh tidak berwarna kuning tapi berwarna hijau. Tetapi kami beruntung karena panas matahari tidak banyak masuk dan membakar kami hidup-hidup. Kaca hitam yang tebal ternyata telah mencegah sinar UV dan mengurangi radiasi matahari masuk ke dalam perlindungan kami yang kecil.

Hal yang paling menakjubkan bagiku adalah ketika di langit terlihat aurora. Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (angin matahari).Untuk beberapa saat aku takjub melihatnya. Aurora hanya muncul pada kutub-kutub bumi saja. Tapi kali ini aurora terdapat di mana-mana dan memenuhi langit.

Seperti selendang pelangi raksasa yang berkibar-kibar di angkasa. Seolah-olah para bidadari menari-nari meliuk-liukkan selendangnya yang indah untuk menghiburku dan mengobati rasa pedihku ini karena kehilangan semua orang-orang yang selalu dekat denganku. Gerakannya seolah-olah memberi kita harapan untuk bergerak, hidup, dan terus berkarya.





to be confide.....



Rabu, 11 Februari 2009

perubahan bangunan (metamorfosis)


Solo Grand Mall yang dibangun di atas lahan seluas 12.080 m2, merupakan bangunan pusat perdagangan yang bernuansa Mall, dimana bangunan komersial ini terdiri atas 7 lantai dengan total luasannya 63.000 m2.


Solo Grand Mall merupakan tipe bangunan pertama. Yaitu bangunan yang selalu mengalami perubahan atau metamorfosis.

Karena menurut saya perubahan bisa terjadi pada muka atau wajah bangunan itu sendiri dengan berbagai macam interior yang ditata artistik dan menarik perhatian konsumen. Setiap bulan selalu ada avent yang merubah wajah dari mall menjadi selaras dengan event yang ada.

Kemajuan peradaban manusia merupakan jembatan yang dapat merubah falsafah, pandangan dan gaya hidup manusia. Industrialisasi adalah salah satu proses ke masyarakat modern. Indikasi inilah yang menyebabkan bangunan mengalami metamorfosa. Segala sesuatu selalu dituju dan diperuntukkan agar menghasilkan uang. Konsep dan falsafah hunian yang sudah mentradisi secara turun-temurun sudah tidak diterapkan lagi.